Pernah berada dalam situasi ketika kita sudah berusaha sebaik mungkin, tetapi hasil akhirnya tetap berada di luar kendali? Dalam keadaan seperti ini, kita membutuhkan tawakal, yaitu sikap berserah diri kepada Allah setelah berusaha dan menjalankan apa yang menjadi tanggung jawab kita.
Salah satu teladan tentang tawakal dapat kita lihat dari kisah Nabi Ismail AS. Beliau adalah putra Nabi Ibrahim AS yang sejak kecil telah menghadapi berbagai ujian. Salah satu ujian terbesar terjadi ketika Nabi Ibrahim AS mendapat perintah dari Allah untuk menyembelih putranya. Meskipun perintah tersebut sangat berat, Nabi Ismail AS menunjukkan ketaatan dan kesabaran yang luar biasa.
Kisah tersebut tidak berhenti pada ujian penyembelihan. Allah kemudian mengganti Nabi Ismail AS dengan seekor sembelihan yang besar. Peristiwa inilah yang menjadi salah satu dasar disyariatkannya ibadah kurban. Dari kisah tersebut, kita dapat melihat bagaimana ketaatan, kesabaran, dan tawakal berjalan bersama.
Yuk, Sobat SyariHub, simak kisah Nabi Ismail AS dan beberapa pelajaran tentang tawakal yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari!
Belajar Tawakal dari Kisah Nabi Ismail AS
Kisah Nabi Ismail AS dalam menghadapi perintah penyembelihan memberikan banyak pelajaran tentang bagaimana seorang Muslim seharusnya bersikap ketika menghadapi ujian.
Berikut beberapa pelajaran yang dapat kita ambil:
1. Tetap Taat meski Menghadapi Ujian Berat
Ketika Nabi Ibrahim AS menyampaikan perintah Allah kepada Nabi Ismail AS, beliau tidak menolak atau membantah. Sebaliknya, Nabi Ismail AS berkata:
يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Yā abati if‘al mā tu’mar, satajidunī insyā’allāhu minash-shābirīn.
“Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”
(QS. As-Saffat: Ayat 102)
Jawaban Nabi Ismail AS menunjukkan keteguhan hatinya dalam menjalankan perintah Allah. Meskipun menghadapi ujian yang sangat berat, beliau tetap memilih untuk bersabar dan percaya kepada keputusan Allah.
2. Tawakal Berjalan Bersama Kesabaran
Dari kisah tersebut, kita dapat memahami bahwa tawakal bukan berarti pasrah tanpa melakukan apa pun. Nabi Ismail AS menunjukkan sikap menerima dan taat, sementara Nabi Ibrahim AS juga berusaha menjalankan perintah Allah.
Tawakal berarti menyerahkan hasil kepada Allah setelah melakukan apa yang mampu kita lakukan. Sikap ini dapat membantu kita menghadapi berbagai keadaan tanpa terlalu larut dalam kekhawatiran terhadap sesuatu yang berada di luar kendali.
3. Percaya bahwa Allah Memiliki Jalan Terbaik
Ketika Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS telah berserah diri kepada Allah, Allah kemudian memberikan jalan keluar. Nabi Ismail AS tidak jadi disembelih dan Allah menggantinya dengan seekor sembelihan yang besar.
Allah SWT berfirman:
وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
Wa fadaināhu bidzibḥin ‘aẓīm.
“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”
(QS. As-Saffat: Ayat 107)
Peristiwa tersebut mengajarkan bahwa manusia tidak selalu mengetahui apa yang akan terjadi setelah sebuah ujian. Karena itu, setelah berusaha dan berdoa, kita perlu belajar mempercayakan hasilnya kepada Allah.
Belajar Tawakal Bersama Al-Qur’an
Kisah Nabi Ismail AS mengajarkan bahwa tawakal berjalan bersama ketaatan, kesabaran, dan keyakinan kepada Allah. Sikap tersebut dapat dilatih dengan terus mendekatkan diri kepada Allah dan mempelajari ajaran-Nya.
Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah membangun kedekatan dengan Al-Qur’an. Bagi Sobat SyariHub yang ingin belajar Al-Qur’an dengan pendampingan personal, SyariHub menyediakan sistem 1 murid 1 guru. Peserta dapat belajar sesuai kemampuan, mulai dari membaca Al-Qur’an dari dasar, memperbaiki tajwid dan tahsin, hingga melanjutkan ke tahfidz.
Dengan jadwal fleksibel dan materi yang disesuaikan, proses belajar dapat dilakukan secara bertahap. Yuk, belajar dari kisah Nabi Ismail AS untuk terus berusaha, bersabar, dan menyerahkan hasil terbaik kepada Allah.