Sobat SyariHub, ketika mendengar nama seorang ulama atau sufi besar, mungkin kita membayangkan sosok yang sejak kecil sudah dekat dengan ilmu dan ibadah. Namun, kisah Fudhail bin Iyadh justru berbeda. Sebelum dikenal sebagai seorang sufi besar, ia pernah menjalani kehidupan sebagai perampok yang ditakuti oleh masyarakat.
Lalu, bagaimana seorang perampok dapat berubah menjadi ulama dan sufi yang dikenal dalam sejarah Islam? Perubahan itu bermula dari sebuah peristiwa yang membuat hati Fudhail tersentuh oleh ayat Al-Qur’an.
Fudhail bin Iyadh, Perampok yang Ditakuti
Pada masa mudanya, Fudhail bin Iyadh dikenal sebagai seorang perampok. Ia biasa menunggu di jalan-jalan sepi untuk menghadang orang yang melintas dan merampas harta mereka. Kehidupan tersebut membuatnya ditakuti oleh masyarakat yang melewati wilayah tempat ia melakukan aksinya.
Namun, suatu malam terjadi sesuatu yang mengubah kehidupannya. Dalam salah satu riwayat yang masyhur, Fudhail mendengar lantunan ayat Al-Qur’an ketika sedang berada dalam perjalanan untuk melakukan perbuatan buruk.
Ayat yang didengarnya adalah QS. Al-Hadid ayat 16:
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ
“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk secara khusyuk mengingat Allah?”
(QS. Al-Hadid: 16)
Ayat tersebut membuat hati Fudhail tersentak. Ia menyadari bahwa selama ini hidupnya telah jauh dari jalan yang benar. Dalam kisah yang diriwayatkan, perasaan takut dan penyesalan kemudian mendorongnya untuk meninggalkan kehidupan lamanya dan bertaubat kepada Allah.
Meninggalkan Kehidupan Lama dan Mencari Ilmu
Taubat Fudhail tidak berhenti pada penyesalan. Setelah meninggalkan kehidupan sebagai perampok, ia mulai mempelajari agama dengan sungguh-sungguh. Ia berguru kepada sejumlah ulama pada masanya, di antaranya Manshur bin Mu’tamir, Al-A’masy, ‘Atha’ bin As-Sa’ib, dan Shafwan bin Salim.
Fudhail kemudian menetap di Makkah dan menjalani kehidupan yang sederhana. Ia bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara yang halal. Dalam berbagai riwayat, ia juga dikenal berhati-hati terhadap harta dan pemberian dari para penguasa karena ingin menjaga dirinya dari sesuatu yang tidak jelas.
Seiring berjalannya waktu, Fudhail bin Iyadh dikenal bukan lagi sebagai perampok yang ditakuti, melainkan sebagai seorang ulama dan sufi yang memiliki kedalaman ilmu dan ketakwaan. Perjalanan hidupnya menjadi salah satu kisah perubahan yang dikenal dalam sejarah tasawuf.
Dari Perampok Menjadi Sufi Besar
Perubahan Fudhail menunjukkan bahwa taubat bukan hanya tentang meninggalkan kesalahan, tetapi juga tentang membangun kehidupan yang baru. Setelah menyadari kesalahannya, ia mengisi kehidupannya dengan belajar, beribadah, bekerja dengan cara yang halal, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Kisahnya juga mengingatkan bahwa masa lalu seseorang tidak selalu menentukan bagaimana akhir kehidupannya. Fudhail yang dahulu dikenal sebagai perampok kemudian menjadi sosok yang dihormati karena ilmu dan ketakwaannya.
Allah berfirman:
لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS. Az-Zumar: 53)
Kisah Fudhail bin Iyadh menjadi gambaran tentang bagaimana sebuah kesadaran dapat menjadi awal perubahan besar. Dari kehidupan yang penuh kesalahan, ia memilih untuk berhenti, bertaubat, dan menempuh jalan ilmu hingga akhirnya dikenal sebagai salah satu sufi besar.
Jangan Menunda untuk Berubah
Perjalanan Fudhail bin Iyadh menunjukkan bahwa pintu perubahan tetap terbuka selama seseorang mau kembali kepada Allah. Taubat bukan hanya tentang menyesali masa lalu, tetapi juga berusaha memperbaiki kehidupan setelahnya.
Jika ingin memperdalam pemahaman tentang Al-Qur’an dan ilmu agama, belajar secara bertahap dapat membantu kita membangun kebiasaan yang lebih baik. SyariHub dapat menjadi salah satu pilihan untuk belajar mengaji secara privat bersama pengajar dengan waktu yang fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan.
Yuk, terus belajar dan memperbaiki diri sedikit demi sedikit bersama SyariHub!