Punya pekerjaan bagus, penghasilan tinggi, atau berhasil mencapai banyak hal dalam hidup sering dianggap sebagai tanda kebahagiaan. Namun, apakah kesuksesan selalu membuat seseorang merasa bahagia? Nyatanya, seseorang bisa saja terlihat sukses dari luar, tetapi masih merasa kosong, gelisah, atau tidak tenang dalam menjalani hidup.
Dalam perspektif Islam, kesuksesan duniawi bukan satu-satunya ukuran kebahagiaan. Kekayaan, kesehatan, ilmu, maupun pencapaian memang dapat memberikan kenyamanan, tetapi semuanya tidak menjamin seseorang memiliki hati yang tenang. Kebahagiaan juga berkaitan dengan keimanan, kedekatan kepada Allah, serta kemampuan menerima ketetapan-Nya dengan ikhlas.
Lantas, apa sebenarnya makna bahagia dalam Islam dan bagaimana cara meraihnya? Yuk, Sobat SyariHub, simak artikel ini sampai selesai untuk mengetahui jawabannya!
Kenapa Orang Sukses Belum Tentu Bahagia?
Kesuksesan sering kali dikaitkan dengan kebahagiaan. Memiliki pekerjaan yang baik, penghasilan tinggi, rumah yang nyaman, atau berhasil mencapai berbagai target dianggap sebagai tanda bahwa seseorang telah memiliki kehidupan yang bahagia. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Ada orang yang terlihat sukses dari luar, tetapi masih merasa kosong, gelisah, atau tidak menemukan ketenangan dalam hidupnya.
Dalam Islam, kesuksesan duniawi bukan satu-satunya ukuran kebahagiaan. Harta, kesehatan, ilmu, dan pencapaian memang dapat memberikan kenyamanan, tetapi semuanya tidak menjamin seseorang memiliki hati yang tenteram. Kebahagiaan juga berkaitan dengan keimanan dan kedekatan seseorang kepada Allah.
Allah berfirman dalam QS. Ar-Ra’d ayat 28:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ
alladzîna âmanû wa tathma’innu qulûbuhum bidzikrillâh, alâ bidzikrillâhi tathma’innul-qulûb
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.
(QS. Ar-Ra’d: Ayat 28)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa ketenangan hati memiliki hubungan erat dengan mengingat Allah. Artinya, sebanyak apa pun pencapaian yang dimiliki, seseorang tetap membutuhkan hubungan dengan Allah agar hatinya memperoleh ketenteraman. Sebaliknya, ketika memiliki iman dan bersandar kepada Allah, seseorang dapat menghadapi berbagai keadaan hidup dengan lebih tenang.
Bagaimana Cara Meraih Kebahagiaan Dalam Perspektif Islam?
- Memperkuat Iman kepada Allah
Iman menjadi dasar bagi seorang Muslim dalam menjalani kehidupan. Ketika meyakini bahwa segala sesuatu berada dalam pengetahuan dan kehendak Allah, seseorang dapat lebih tenang menghadapi keberhasilan maupun kegagalan. Ia tidak mudah berlebihan ketika mendapatkan sesuatu dan tidak mudah kehilangan harapan ketika menghadapi kesulitan.
- Menerima Ketetapan Allah dengan Ikhlas
Tidak semua hal dalam hidup berjalan sesuai dengan keinginan. Ada rencana yang tertunda, kehilangan, atau kegagalan yang harus diterima. Belajar menerima ketetapan Allah dengan ikhlas bukan berarti berhenti berusaha, tetapi menyadari bahwa hasil akhir berada di tangan-Nya. Sikap ini dapat membantu hati lebih lapang dan terhindar dari rasa kecewa yang berlebihan.
- Mendekatkan Diri kepada Allah
Ketenangan hati perlu dirawat dengan menjaga hubungan kepada Allah. Salat, zikir, membaca Al-Qur’an, dan memperbanyak doa dapat menjadi sarana untuk mengingat Allah di tengah kesibukan. Dengan begitu, kesuksesan yang diraih tidak membuat seseorang lupa kepada tujuan hidupnya.
- Berbuat Baik dan Berbagi dengan Sesama
Kebahagiaan juga dapat tumbuh ketika seseorang menggunakan apa yang dimilikinya untuk memberikan manfaat. Harta, ilmu, waktu, maupun kemampuan dapat dibagikan kepada orang lain. Dengan demikian, kesuksesan tidak hanya dinikmati untuk diri sendiri, tetapi menjadi jalan untuk mendapatkan kebermanfaatan dan mendekatkan diri kepada Allah.
Menemukan Kebahagiaan dalam Kedekatan kepada Allah
Pada akhirnya, kesuksesan duniawi bukanlah satu-satunya ukuran kebahagiaan. Pekerjaan, penghasilan, dan pencapaian akan terasa lebih bermakna ketika disertai iman, rasa syukur, dan hati yang dekat dengan Allah.
Nah, Sobat SyariHub, salah satu cara menjaga kedekatan dengan Allah adalah dengan terus belajar Al-Qur’an. SyariHub menyediakan pembelajaran mengaji secara privat dengan konsep 1 murid 1 guru, guru profesional dan bersertifikat, serta jadwal belajar yang fleksibel sesuai kesibukanmu. Selain itu, kamu juga bisa mendapatkan laporan perkembangan belajar dan memiliki pilihan untuk mengganti guru jika merasa kurang cocok.
Yuk, mulai perjalanan belajar mengajimu bersama SyariHub dan temukan ketenangan melalui kedekatan dengan Al-Qur’an!