Kisah Turunnya Wahyu Pertama kepada Nabi Muhammad SAW

Kisah Turunnya Wahyu Pertama

Sebelum menerima wahyu, Nabi Muhammad SAW dikenal oleh masyarakat Makkah sebagai sosok yang jujur dan amanah hingga mendapat gelar Al-Amin. Beliau juga memiliki kebiasaan menyendiri untuk merenung dan beribadah. Kebiasaan tersebut semakin sering dilakukan setelah beliau menikah dengan Khadijah binti Khuwailid RA, terutama pada bulan Ramadhan.

Nabi Muhammad SAW biasanya membawa bekal untuk beberapa malam dan pergi ke Gua Hira, sebuah tempat yang jauh dari keramaian. Di sanalah, pada sekitar tahun 610 M, terjadi peristiwa besar yang menjadi awal turunnya wahyu Al-Qur’an.

Malaikat Jibril Datang Membawa Wahyu

Saat berada di Gua Hira, Malaikat Jibril datang menemui Nabi Muhammad SAW. Jibril kemudian berkata, “Iqra!” yang berarti “Bacalah!”. Rasulullah SAW menjawab bahwa beliau tidak dapat membaca.

Perintah tersebut disampaikan kembali hingga akhirnya Malaikat Jibril menyampaikan wahyu pertama. Peristiwa ini diriwayatkan dalam hadits dari Aisyah RA tentang permulaan wahyu kepada Rasulullah SAW.

Ayat pertama yang disampaikan adalah:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

Iqra’ bismi rabbikal-ladzi khalaq.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.”

(QS. Al – Alaq: Ayat 1)

Ayat ini menjadi awal dari lima ayat pertama Surat Al-‘Alaq yang diterima Nabi Muhammad SAW. Perintah “Iqra’” memiliki pesan yang sangat kuat bagi umat Islam. Membaca dan belajar bukan hanya aktivitas untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga hendaknya dilakukan dengan mengingat Allah SWT sebagai Tuhan yang menciptakan dan mengajarkan manusia.

Nabi Muhammad SAW Pulang dalam Keadaan Gemetar

Pengalaman menerima wahyu tersebut membuat Rasulullah SAW merasa sangat takut dan gemetar. Beliau kemudian pulang ke rumah menemui Khadijah RA dan berkata, “Selimuti aku, selimuti aku.” Setelah keadaan mulai tenang, Rasulullah SAW menceritakan apa yang dialaminya di Gua Hira.

Kisah ini diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah RA dalam hadits tentang permulaan turunnya wahyu. Rasulullah SAW bersabda:

“Kemudian Malaikat Jibril datang kepadaku dan berkata, ‘Bacalah!’ Aku menjawab, ‘Aku tidak dapat membaca.’ Lalu ia memelukku hingga aku merasa sesak, kemudian melepaskanku dan berkata, ‘Bacalah!’ Aku menjawab, ‘Aku tidak dapat membaca.’ Ia memelukku untuk kedua kalinya hingga aku merasa sesak, lalu melepaskanku dan berkata, ‘Bacalah!’ Aku kembali menjawab, ‘Aku tidak dapat membaca.’ Ia memelukku untuk ketiga kalinya, kemudian melepaskanku dan berkata, ‘Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan…’”

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari, Kitab Bad’ul Wahyi, hadits nomor 3. Riwayat ini juga terdapat dalam Shahih Muslim.

Setelah mendengar cerita Rasulullah SAW, Khadijah RA menenangkan beliau. Ia mengingatkan bahwa Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan seseorang yang memiliki akhlak mulia dan senantiasa membantu sesama. Khadijah RA menyebut beberapa kebaikan Rasulullah SAW, seperti menyambung silaturahmi, membantu orang yang membutuhkan, memuliakan tamu, dan membela kebenaran.

Untuk memperoleh penjelasan lebih lanjut, Khadijah RA kemudian membawa Rasulullah SAW menemui Waraqah bin Naufal, seorang yang memahami kitab-kitab terdahulu. Setelah mendengar pengalaman Rasulullah SAW, Waraqah mengenali sosok yang datang kepada beliau sebagai Namus, yaitu Malaikat Jibril yang juga pernah membawa wahyu kepada Nabi Musa AS.

Waraqah juga menyampaikan bahwa Rasulullah SAW akan menghadapi tantangan dari kaumnya. Hal ini menjadi gambaran awal bahwa perjalanan menyampaikan risalah Islam tidak akan mudah. Meski demikian, dukungan Khadijah RA dan penjelasan Waraqah menjadi penguat bagi Rasulullah SAW setelah mengalami peristiwa besar di Gua Hira.

Kisah tentang turunnya wahyu pertama ini bersumber dari HR. Bukhari, melalui riwayat Sayyidah Aisyah RA.

Memaknai Kisah Turunnya Wahyu Pertama

Kisah wahyu pertama Nabi Muhammad SAW bukan hanya cerita tentang sebuah peristiwa bersejarah. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang pentingnya mendekatkan diri kepada Allah, mempersiapkan diri dengan kebaikan, serta memiliki semangat untuk membaca dan belajar.

Perintah Iqra’ yang menjadi awal wahyu juga mengingatkan kita bahwa mencari ilmu merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim. Namun, ilmu yang dipelajari sebaiknya tetap membawa kita semakin mengenal dan mendekat kepada Allah SWT.

Yuk, Sobat SyariHub, semakin dekat dengan Al-Qur’an dengan tidak hanya membacanya, tetapi juga berusaha memahami kandungannya. SyariHub menyediakan les Al-Qur’an online bersama guru bersertifikat yang dapat membantu belajar membaca dan memahami Al-Qur’an dengan lebih terarah.

Tertarik belajar bersama SyariHub?

Mulai langkah berkahmu dan mengaji bersama SyariHub!

Syarihub merupakan platform mengaji online yang menyediakan layanan mengaji secara daring. Syarihub juga memberikan informasi mengenai Al-Qur'an dan hal-hal terkait islam melalui sosial media kami.

PRANALA
Tentang Kami
Belajar Mengaji Anak-Anak
Belajar Mengaji Dewasa
IKUTI SOSIAL MEDIA KAMI
ALAMAT
Jl. Dharmawangsa, Surabaya
© SyariHub.com ngaji online privat